Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Juli 2010

Kiat-Kiat Merawat Luka

Acap terjadi, luka di kulit diobati sendiri dengan akibat buruk. Bukan saja penyakit kulitnya tidak sembuh, tapi malah makin parah. Tak jarang menyisakan bekas atau parut. Apa saja yang harus diperhatikan dalam merawat luka di kulit?

1. Luka bakar bukan odol atau mentega salepnya

Sering terjadi, luka bakar diolesi odol atau mentega. Luka bakar tak ubahnya luka umumnya, perlu dirawat secara suci hama. Odol dan mentega tidak memberi manfaat, malah bisa buruk akibatnya. Odol atau mentega mungkin tidak suci hama, sehingga kuman masuk ke dalam luka. Luka bakar ringan (hanya kemerahan kulit tanpa lepuh) cukup diolesi salep livertran (bisa dibeli bebas di apotik), dan tak perlu ditutup. Luka bakar lepuh bergelembung, jangan dipecahkan. Biarkan pecah sendiri.

Setelah pecah, lindungi dari paparan air mandi, sebab kulit di dalam masih kulit muda yang mudah ditembus kuman. Perawatan dengan antisepsis tetap perlu selain menambah salep livertran. Sekarang ada salep jenis lain untuk membantu menumbuhkan jaringan kulit baru. Luka lepuh bergelembung yang luas butuh perawatan rumah sakit. Demikian pula luka bakar berat yang mengelupasi kulit sampai dalam, dan bikin kulit gosong, juga tak dapat dirawat sendiri di rumah.

2. Jahitan luka jangan dibiarkan tidak dibuka

Jika luka sampai dijahit, jangan lupa untuk membuka jahitannya. Sering terjadi, pasien tidak kembali ke dokter untuk membuka jahitan. Biasanya jahitan dibuka seminggu kemudian, atau lebih dini jika terjadi infeksi. Luka dijahit bisa saja terinfeksi. Selain bengkak dan nyeri, mungkin ada jahitan yang mengelupas dan lepas.

Jika ini terjadi, perlu dirapikan ulang. Jika tidak dikoreksi, luka akan menyisakan bekas yang jelek. Jahitan luka memang tidak selalu harus dibuka jika memakai cara klem atau jahitan langsung dengan benang usus. Selama memakai benang sutera, jahitan perlu dibuka. Jika tidak dibuka, benang merupakan benda asing sumber infeksi. Bisa jadi, penyembuhan luka tidak berlangsung sempurna dan benangnya akan menyatu terikat oleh jaringan kulit baru. Ini tentu tidak sehat.

3. Jangan mengeleti keropeng luka

Seringkali, keropeng luka yang sudah mengering dan terasa gatal dikeleti. Biarkan kulit kering yang mati bercampur sisa darah dan nanah mengelupas sendiri. Mengeleti keropeng luka berarti membuka lapisan kulit yang masih muda di bawahnya terpapar dunia luar. Kulit muda belum siap terpapar dunia luar, juga belum kuat menghadapi ancaman infeksi. Biarkan secara alami, begitu kulit muda sudah cukup matang, ia akan mendesak keropeng di atasnya untuk terkelupas sendirinya.

Lepasnya keropeng secara tak sengaja (tersenggol) biasanya akan mengeluarkan darah, tanda kulitnya masih rapuh. Dalam keadaan demikian, bubuhi antibiotika untuk melindungi kulit muda agar tak terinfeksi dan terjadi borok baru.

4. Kulit eksim tidak memakai salep jamur

Banyak ragam penyakit kulit. Kelihatannya serupa, namun kenyataannya tidak sama. Eksim misalnya. Eksim kerap disangka jamur. Jika eksim diberi obat jamur tentu tak bakal sembuh. Demikian pula jika jamur kulit diobati obat eksim, sama tak bakal sembuhnya.

Penyakit kulit itu spesifik obatnya. Jika obat tidak tepat, kelainan kulitnya pun jadi kacau dan majemuk. Maka, sembarang dan serampangan asal memakai salep, tidak dianjurkan. Banyak salep kulit dijual, bukan berarti serbaguna buat penyakit atau kelainan kulit apa saja. Jika tak tepat pilihan obatnya, penyakit kulitnya malah bertambah kacau balau. Penyakit kulit yang sudah kacau balau lebih pelik menyembuhkannya.

5. Penyakit kulit basah tidak disalepi dulu

Penyakit kulit yang tidak dirawat secara benar seringkali berkembang menjadi infeksi kulit. Kulit menjadi basah. Kita acap menyebutnya eksim basah. Eksim yang digaruk keras akan menjadi luka dan basah. Dalam keadaan demikian, salep tidak menolong. Penyakit kulit basah harus dilawan dengan basah lagi, yakni mengompresnya.

Kompres dibasahi berkala setiap beberapa jam setiap kali kompres mengering. Tujuan kompres adalah menyedot getah yang membasahi. Setelah mengering, baru diberi obat eksim. Eksim sering sudah tercemar infeksi akibat digaruk, atau bisa juga tercemar jamur. Eksim terinfeksi kuman dan jamur tak sembuh hanya dengan obat eksim, namun perlu ditambah antibiotika dan anti-jamur.

6. Jangan lanjutkan pemakaian obat jika tak sembuh-sembuh

Sewring orang menganggap penyakit kulit umumnya berlangsung lama, sehingga pemakaian obat yang dibeli sendiri tidak dibatasi kendati tidak sembuh. Hentikan obat jika tak menyembuh. Mungkin obatnya tidak tepat. Hal ini sering terjadi pada penyakit kudis.

Kudis sering luput terdiagnosis. Selain terlupakan, gambaran kulit pada kudis tidak begitu tegas. Kelihatan hanya bintik-bintik bentol kecil merah, biasanya di bagian kulit yang tipis dan empuk, seperti di sela jemari tangan, pergelangan tangan, di perut, dan kulit bokong. Macam-macam kudis tak mungkin sembuh kalau tidak memilih obat khusus kudis (antikudis) yang cara pemakaiannya pun khusus.

Kudis menular pada anggota keluarga. Lewat pegangan, jabatan tangan, singgungan kulit, hubungan kelamin, kutu kudis berpindah dari pengidap ke kulit sehat. Kutu kudis bersarang di lapisan kulit, keluar malam hari dan gatalnya minta ampun.

7. Reaksi alergi kulit tak selalu memerlukan salep atau krim

Sering pula kulit mengalami reaksi alergi. Tandanya, yang ringan hanya biduran, gatal-gatal sekujur tubuh. Yang berat, bisa mengelupas, lepuh, dan jika berat sekali muncul gelembung-gelembung cairan sekujur badan.

Obat alergi kulit sama, yaitu antialergi yang diminum. Jika berat, butuh suntikan antihistamin. Kulitnya dibubuhi bedak antigatal. Jika berat dan mengelupas, baru diberikan antihistamin krim atau lotion. Alergi kulit yang hebat dan berbekas terjadi pada alergi terhadap antibiotika golongan sulfa. Orang yang berbakat alergi perlu berhati-hati jika diberi obat golongan sulfa. Gejalanya, bibir terasa tebal, gatal, lalu tumbuh eksim menyerupai tompel di sekitar bibir yang biasanya membekas seumur hidup. Inipun perlu obat antihistamin.

8. Agar tidak menyisakan bekas, luka atau penyakit kulit jangan sampai terinfeksi

Setiap luka atau penyakit kulit mendindikasikan terjadi kerusakan pada permukaan kulit. Tergantung jenis luka dan penyakit kulitnya, lapisan kulit yang terkena bisa dalam, bisa juga dangkal. Semakin dalam kelainan kulit, semakin besar risiko menyisakan bekas setelah menyembuh. Agar tidak sampai terjadi bekas luka, rawatlah luka dengan benar sejak awal. Jika luka atau penyakit kulit lain sampai terinfeksi akibat jeleknya perawatan luka, tidak bisa tidak, akan membekas. Luka yang membekas sukar dikoreksi dan memerlukan bedah plastik.

9. Tidak memberitahu kalau punya bakat keloid

Ada orang yang berbakat keloid. Artinya, setiap sembuh dari luka, akan terbentuk bentol di sekitar bekas luka semacam daging tumbuh. Secara kosmetis, ini tak sedap dipandang, terlebih jika terjadi di wajah. Risiko ini bisa dicegah dengan memberikan suntikan khusus selama luka. Termasuk jika hendak dioperasi, dokter perlu diberitahu kalau punya bakat keloid, sehingga pada luka bekas operasi diberikan obat khusus mencegah terbentuknya keloid. Keloid yang sudah terbentuk bisa disuntik berulang kali untuk mengempiskan benjolannya, namun tidak bisa mulus sempurna.

Jumat, 18 Juni 2010

Schizophrenia

Saya menulis tentang Schizophrenia untuk membagi semua yang saya pelajari tentang salah satu penyakit jiwa yang tidak jarang terjadi di negeri ini. Menurut saya ini penting karena masih banyak orang yang mengesampingkan pengetahuan ini dan terbatas hanya teori bahwa orang yang menderita penyakit ini disebut orang "GILA".

Stigma masyarakat mengenai schizophrenia adalah sikap keluarga dan masyarakat yang mengannggap bahwa bila salah seorang anggota keluarganya menderita schizophrenia, hal ini merupakan aib bagi keluarga. Oleh karenanya, seringkali penderita schizophrenia disembunyikan bahkan dikucilkan dan tidak dibawa berobat ke dokter karena rasa malu. Sehingga biasanya keluarga membawanya ke pengobatan-pengobatan yg tidak rasional (ex. dukun, paranormal) sebelum akhirnya dibawa ke psikiatri. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia penderita mendapat perlakuan yang tidak beradab.

Schizophrenia menurut bahasa adalah schizos yaitu terbelah dan phrenos yaitu jiwa. Keadaan tersebut biasa kita sebut dengan kepribadian ganda. Schizophrenia sendiri berarti sekelompok gangguan dasar pada kepribadian, distorsi khas proses pikir, gangguan perasaan, waham yang aneh, gangguan persepsi, halusinasi, dan autisme. Menurut catatan sejarah, ada 4 tokoh yang mengkonsep tentang schizophrenia yaitu Hunglings Jackson (1887), Eugene Bleuler (1908), Emil Kreaepelin (1919), dan Kurt Schneider (1959). Dulunya konsep-konsep mereka dipandang berbeda, namun kini sebenarnya adalah sebuah kesatuan.

Hunglings Jackson => gangguan pada susunan saraf pusat
Eugene Bleuler => fragmented thinking & inability to relate with external word
Emil Kreapelin => deterioration (kemunduran) shg disamakan dementia precox
Kurt Schneider => halusinasi dan delusi

Etiologi
Ada beberapa factor yang dapat menyebakan schizophrenia yaitu dari sudut organobiologik, psikodinamik, psikoreligius, dan psikososial.
a. Organobiologik : Faktor genetic, virus, Auto-antibody, Malnutrisi. Kalo dijelaskan buanyak banget ni.. Karena penelitiannya yg masih terus berkembang. Yang jelas penelitian tersebut berupaya mencari adanya perubahan-perubahan secara specific pada susunan saraf pusat.
b. Psikodinamik : I + S = R [I = Individu (genetic atau kepribadian rentan mjd sakit), S = Situasi (kondisi yg nyebabin tekanan mental), R = Reaksi (hasil dari penyatuan keduanya)]
c. Psikoreligius : berkaitan dengan kepercayaan. ex. Seseorang yang menganggap dirinya Tuhan, Dewa, nabi, ataupun utusan-utusan tertentu yang dapat mengganggu kehidupan lingkungan sosialnya. Apa yang dianggap orang tersebut benar, adalah bertentangan dengan kepercayaan yang sudah ada (Al-quran, Injil, dll.)
d. Psikososial : Sama dengan “S” pada psikodinamik. “S” ini merupakan stressor psikososial (Perkawinan,Pekerjaan,Hub. interpersonal,Keuangan, dll)

Teori Freud mengatakan bahwa gangguan jiwa terjadi karena adanya konflik internal (antara Id, Ego, dan Super-Ego) pd diri seseorang shg menyebabkan ketidakmampuan beradaptasi dengan dunia luar.
Karakter

> Gejala Positif :
a. Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional. Meskipun telah dibuktikan secara objektif bahwa keyakinan itu tidak rasional, namun penderita tetap meyakini kebenarannya.
b. Halusinasi, yaitu pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan. Misalnya penderita mendengar suara-suara/bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara/bisikan itu. (hiiiiiii….. nGeri ah!)
c. Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraanya. Misalnya bicaranya kacau sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya. (Disoganized speech)
d. Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat dan gembira berlebihan.
e. Merasa dirinya “Orang Besar”, merasa serba mampu, serba hebat, dan sejenisnya.
f. Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya.

> Gejala Negatif :
a. Alam perasaan(affect) “tumpul” da “mendatar”. Gambaran alam perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.
b. Mengasingkan diri dan suka melamun.
c. Kontak emosional sangat jarang, sukar diajak bicara, dan pendiam (katatonik).
d. Pasif dan apatis.
e. Pola pikir stereotip (pengulangan tindakan atau kata-kata yang menetap dan tidak ada gunannya)

Gejala Positif itu sangat mengganggu lingkungan (biasanya keluarga) sehingga merupakan motivasi keluarga untuk membawa penderita berobat. Sedangkan pada gejala negative dianggap tidak mengganggu lingkungannya sehingga seringkali tidak disadari atau kurang diperhatikan oleh pihak keluargannya. Oleh karena itu, pada penderita denga gejala negative seringkali terlambat membawa penderita untuk berobat.

Terdapat Kriteria utama untuk mendiagnosis schizophrenia, yaitu Delusi, Halusinasi, dan Inkoherensi (pikiran tidak rasional). Hal itu juga ditambah dengan adanya detriorasi (kemunduran) dari taraf fungsi adaptasi dalam lingkungan. Kriteria tersebut terjadi secara terus menerus selama > 6 bulan.

Diantara fase aktif tersebut (kriteria diatas telah tampak) terdapat 2 fase, yaitu fase Prodromal (gejal awal) dan fase Residual(gejala sisa). Pada fase Prodromal telah tampak deteriorasi yang bukan dikarenakan gangguan Afek atau penggunaan Zat adiktif. Sedangkan pada fase Residual terdapat peninggalan gejala yang masih menetap namun penderita mulai bisa beradaptasi dg lingkungan.

Tipe
1. Paranoid Type : seperti dikejar-kejar atau dibuntuti sesuatu
2. Disorganized Type : atau Hebefrenic type (tingkah lakunya kacau)
3. Catatonic Type : super pendiam
4. Undifferentiated type : tdk tergolongkan tp tetap ada delusi, halusinasi, inkoherensi
5. Residual Type : sisa gejala-gejala schizophrenia yg tdk menonjol.

Diagnosis
Multi Axial Diagnosis (bisa dibrowsing via Google)

Treatment
a.Rawat inap di RS bag. Kejiwaan atau RSJ
b.Pengobatan (Antipshycotic : Chlorpromazin, Trifluoperazine, Thioridazine, Haloperidol, Risperidone, Olanzapine, Quetiapine, Aripiprazole, Clozapine)
c.Psikososial Therapies : Suportif, Re-edukatif, Re-konstruktif, Kognitif, Psikodinamik, Perilaku (adaptasi lingkungan), dan keluarga.

Sabtu, 12 Juni 2010

Apakah anda susah bernafas?

Yup! Kali ini saya memberi informasi bagi anda yang memiliki gangguan pernapasan seperti susah bernafas atau alergi seperti astma yang sangat mengganggu kehidupan anda. Selamat membaca!

Ada beberapa penyebab sesak nafas (dyspneu) yang secara klinis dapat menunjukkan sign and symptom penyakit-penyakit tertentu. Disini saya akan menjelaskan tentang tipe klinis dari dyspneu.

1. Fisiologis : Jenis sesak nafas (dispnea) yang paling umum berhubungan dengan latihan fisik ; ventilasi meningkat dan dipertahankan melalui penguatan stimulus respiratorik yang ditimbulkan oleh faktor metabolik dan faktor-faktor lainnya. Dispnea juga sering terjadi selama hipoksia akut, seperti pada ketinggian tinggi, di mana peningkatan stimulus respiratorik disebabkan oleh efek hipoksemia arteri pada korpus karotis. Dispnea juga timbul akibat bernapas dalam konsentrasi CO2 yang tinggi diruang yang tertutup , atau rebreating dalam sistem tertutup tanpa absorbsi CO2. Dispnea dalam situasi ini mirip dengan yang ditimbulkan oleh latihan, dan terutama merupakan kesadaran akan peningkatan ventilasi.


2. Pulmonal : Dua penyebab Pulmonal dari Dispnea adalah defak restriktif dengan kelenturan paru-paru atau dining toraks yang rendah dan defek obstruktif dengan peningkatan resistensi terhadap aliran udara. Pasien dengan dispnea restriktif (misalnya karena fibrosis pulmonal atau deformitas toraks) biasanya terasa nyaman pada saat istirahat tetapi menjadi sangat dispneik saat aktifitas menyebabkan ventilasi pulmonal mencapai batas terbesar kapasitas pernapasannya. Pada Dispnea obstruktif (misalnya pada emfisema obstuktif atau asma), peningkatan upaya ventilasi menyebabkan dispnea kendatipun pada istirahat dan pernapasan tampak sulit dan tertahan, terutama selama ekspirasi.


3. Kardiak: Pada tahap awal gagal jantung. Curah jantung gagal mengimbangi peningkatan kebutuhan metabolik yang meningkat selama latihan. Dengan demikian dorongan respirasi meningkat terutama disebabkan oleh asidosis jaringan dan serebral, dan pasien mengalami hiperventilasi. Berbagai faktor refleks, termasuk reseptor regang di paru-paru, mungkin juga berperan dalam hiperventilasi. Sesak napas seringkali disertai oleh kelesuan atau perasaan
tercekik. Pada stadium lanjut dari gagal jantung, paru-paru mengalami kongesti dan edema, kapasitas ventilatorik paru-paru menurun, dan upaya ventilasi meningkat. Faktor refleks, terutama reseptor jukstakapilaris (J) diseptum alveolar-kapiler, berperan untuk meningkatkan ventilasi pulmonal. Edema pulmonal nonkerdiogenik atau sindroma gawat pernapasan dewasa (ARDS) akan menyebabkan gambaran klinis yang serupa melalui mekanisme yang sama tetapi lebih akut. Asma kardiak merupakan keadaan insufisiensi pernapasan akut dengan bronkospasme, wheezing dan hyperventilasi. Keadaan ini mungkin tidak dapat dibedakan dari tipe asma lain, tetapi penyebabnya adalah kegagalan ventrikel kiri. Respirasi periodik atau Cheyne-Stokes ditandai oleh periode apnea dan hiperpnea yang berselang-seling secara teratur, seringkali mencakup komponen gangguan neorologis di pusat respirasi medularik dan komponen kerdiologis. Pada gagal jantung, perlambatan sirkulasi merupakan penyebab yang dominan; asidosis dan hipoksia di pusat pernapasan juga berperan. Ortopnea adalah gangguan respirasi yang terjadi saaat pasien berbaring sehingga memaksanya untuk duduk. Keadaan ini dicetuskan oleh peningkatan aliran balik vena ke ventrikel kiri yangmengalami kegagalan dan tidak mampu menangani peningkatan preload ini. Kadang-kadang ortopnea terjadi pada gangguan kardiovaskular lain (misalnya, efusi perikardial). Dispnea paroksismal nokturnal (PND), pasien terjaga dengan megap dan harus duduk berdiri untuk mengembalikan pernapasannya yang mungkin dramatis atau menakutkan. Faktor sama yang menyebabkan ortopnea juga berperan untuk bentuk gawat pernapasan ini. PND dapat terjadi pada stenosis mitral, insufiensi aortik, hipertensi dan kondisi lain yang mempengaruhi ventrikel kiri.


4. Sirkulasi : Air Hunger (dispnea akut yang terjadi pada stadium terminal pendarahan) merupakan tanda buruk yang memerlukan tranfusi segera. Dispnea juga terjadi pada anemia kronis, yang timbul hanya saat latihan, kecuali anemia adalah ekstrim.


5. Kimiawi : Asidosis diabetik (pH darah 7,2-6,95) menyebabkan pola respirasi yang lambat dan dalam (pernapasan kussmaul). Tetapi, karena kapasitas pernapasan dipertahankan dengan baik, pasien jarang mengeluh dispnea, sebaliknya pasien uremik mungkin mengeluhkan dispnea karena mengalami pingsan akibat kombinasi asidosis, gagal jantung, edema pulmonal dan anemia.


6. Sentral : Lesi serebral (misalnya, pendarahan) seringkali disertai dengan hiperventilasi kuat yang kadang-kadang bising dan hebat. Kadang-kadang terjadi periode tak terduga berupa apnea iregular berselang-selang dengan periode 4 atau 5 pernapasan dengan kedalaman yang mirip (respirasi biot). Hiperventilasi juga sering ditemukan setelah cedera kepala. Penurunan PaCO2 menyebabkan vasokonstriksi refleks CNS dengan penurunan perfusi serebral yang
menyebabkan penurunan sekunder dalam tekanan intraknial.


7. Psikogenik : Overbreating tipe histerikal sering ditemukan. Pada salah satu jenisnya, hiperventilasi kontinu kadang-kadang menyebabkan alkalosis akut akibat “blowing off” CO2 ; tanda trousseau dan Chvostek yang positif terjadi akibat penurunan kadar ion kalsium serum. Tipe lain ditandai oleh respirasi yang dalam di mana pasien bernapas dengan kedalaman maksimal sampai respirasi “terpuaskan” yaitu saat impuls hiperventilasi menghilang. Keadaan ini seringkali berulang.


Semoga saja informasi yang sedikit ini dapat membantu anda. Terimakasih!

Diabetes Mellitus

Yup! Saya mengangkat judul "Diabetes Mellitus" ini karena banyak pemuda-pemuda yang menghiraukan tentang faktor resiko dari penyakit ini. Jadi melalui blog ini saya akan berbagi kepada anda mengenai informasi yang InsyaAllah dapat mengubah sedikit pola diet anda. Selamat membaca!

Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri.

Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.

Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.

Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.

Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.

Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.

Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah.

Menurut Triplitt (2005) beberapa faktor resiko terjadinya diabetes melitus tipe 2 antara lain adalah sebagai berikut :
a. Riwayat keluarga dengan diabetes melitus
b. Obesitas dengan berat badan ≥ 20 % dari berat badan ideal atau BMI ≥25 kg/m2.
c. Aktivitas fisik yang kurang
d. Mengalami gangguan toleransi glukosa atau gangguan glukosa darah puasa sebelumnya.
e. Hipertensi dengan tekanan darah ≥140/90 mmHg
f. Dislipidemia dengan HDL-kolesterol ≤35 mg/dL dan atau kadar trigliserida ≥250 mg/dL.
g. Memiliki riwayat diabetes melitus gestasional atau melahirkan bayi dengan berat badan bayi lahir >9 pound.
h. Mempunyai riwayat penyakit vaskuler dan polycystic ovary disease.


  • Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus
  • Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut.

    Penderita kencing manis umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita :

    1. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria)
    2. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia)
    3. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia)
    4. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria)
    5. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
    6. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki
    7. Cepat lelah dan lemah setiap waktu
    8. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba
    9. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya
    10.Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.

    Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma. Gejala kencing manis dapat berkembang dengan cepat waktu ke waktu dalam hitungan minggu atau bulan, terutama pada seorang anak yang menderita penyakit diabetes mellitus tipe 1.

    Lain halnya pada penderita diabetes mellitus tipe 2, umumnya mereka tidak mengalami berbagai gejala diatas. Bahkan mereka mungkin tidak mengetahui telah menderita kencing manis.


  • Tipe Penyakit Diabetes Mellitus
  • 1. Diabetes mellitus tipe 1
    Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada insulin dimana tubuh kekurangan hormon insulin,dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Hal ini disebabkan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Diabetes tipe 1 banyak ditemukan pada balita, anak-anak dan remaja.

    Sampai saat ini, Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat di obati dengan pemberian therapi insulin yang dilakukan secara terus menerus berkesinambungan. Riwayat keluarga, diet dan faktor lingkungan sangat mempengaruhi perawatan penderita diabetes tipe 1. Pada penderita diebetes tipe 1 haruslah diperhatikan pengontrolan dan memonitor kadar gula darahnya, sebaiknya menggunakan alat test gula darah. Terutama pada anak-anak atau balita yang mana mereka sangat mudah mengalami dehidrasi, sering muntah dan mudah terserang berbagai penyakit.

    2. Diabetes mellitus tipe 2
    Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan seperti kecacatan dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas (respon) sell dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah.

    Ada beberapa teori yang mengutarakan sebab terjadinya resisten terhadap insulin, diantaranya faktor kegemukan (obesitas). Pada penderita diabetes tipe 2, pengontrolan kadar gula darah dapat dilakukan dengan beberapa tindakan seperti diet, penurunan berat badan, dan pemberian tablet diabetik. Apabila dengan pemberian tablet belum maksimal respon penanganan level gula dalam darah, maka obat suntik mulai dipertimbangkan untuk diberikan.


  • Kadar Gula Dalam Darah
  • Normalnya kadar gula dalam darah berkisar antara 70 - 150 mg/dL {millimoles/liter (satuan unit United Kingdom)} atau 4 - 8 mmol/l {milligrams/deciliter (satuan unit United State)}, Dimana 1 mmol/l = 18 mg/dl.

    Namun demikian, kadar gula tentu saja terjadi peningkatan setelah makan dan mengalami penurunan diwaktu pagi hari bangun tidur. Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar gula dalam darah jauh diatas nilai normal, sedangkan hypoglycemia adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami penurunan nilai gula dalam darah dibawah normal.

    Diagnosa Diabetes dapat ditegakkan jika hasil pemeriksaan gula darah puasa mencapai level 126 mg/dl atau bahkan lebih, dan pemeriksaan gula darah 2 jam setelah puasa (minimal 8 jam) mencapai level 180 mg/dl. Sedangkan pemeriksaan gula darah yang dilakukan secara random (sewaktu) dapat membantu diagnosa diabetes jika nilai kadar gula darah mencapai level antara 140 mg/dL dan 200 mg/dL, terlebih lagi bila dia atas 200 mg/dl.

    Banyak alat test gula darah yang diperdagangkan saat ini dan dapat dibeli dibanyak tempat penjualan alat kesehatan atau apotik seperti Accu-Chek, BCJ Group, Accurate, OneTouch UltraEasy machine. Bagi penderita yang terdiagnosa Diabetes Mellitus, ada baiknya bagi mereka jika mampu untuk membelinya.


  • Pengobatan dan Penanganan Penyakit Diabetes
  • Penderita diabetes tipe 1 umumnya menjalani pengobatan therapi insulin (Lantus/Levemir, Humalog, Novolog atau Apidra) yang berkesinambungan, selain itu adalah dengan berolahraga secukupnya serta melakukan pengontrolan menu makanan (diet).

    Pada penderita diabetes mellitus tipe 2, penatalaksanaan pengobatan dan penanganan difokuskan pada gaya hidup dan aktivitas fisik. Pengontrolan nilai kadar gula dalam darah adalah menjadi kunci program pengobatan, yaitu dengan mengurangi berat badan, diet, dan berolahraga. Jika hal ini tidak mencapai hasil yang diharapkan, maka pemberian obat tablet akan diperlukan. Bahkan pemberian suntikan insulin turut diperlukan bila tablet tidak mengatasi pengontrolan kadar gula darah.

    Semoga dengan informasi ini anda semakin kaya akan informasi dan dapat menjadi salah satu sumber inspirasi kehidupan anda. Terimakasih.