Saya menulis tentang Schizophrenia untuk membagi semua yang saya pelajari tentang salah satu penyakit jiwa yang tidak jarang terjadi di negeri ini. Menurut saya ini penting karena masih banyak orang yang mengesampingkan pengetahuan ini dan terbatas hanya teori bahwa orang yang menderita penyakit ini disebut orang "GILA".
Stigma masyarakat mengenai schizophrenia adalah sikap keluarga dan masyarakat yang mengannggap bahwa bila salah seorang anggota keluarganya menderita schizophrenia, hal ini merupakan aib bagi keluarga. Oleh karenanya, seringkali penderita schizophrenia disembunyikan bahkan dikucilkan dan tidak dibawa berobat ke dokter karena rasa malu. Sehingga biasanya keluarga membawanya ke pengobatan-pengobatan yg tidak rasional (ex. dukun, paranormal) sebelum akhirnya dibawa ke psikiatri. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia penderita mendapat perlakuan yang tidak beradab.
Schizophrenia menurut bahasa adalah schizos yaitu terbelah dan phrenos yaitu jiwa. Keadaan tersebut biasa kita sebut dengan kepribadian ganda. Schizophrenia sendiri berarti sekelompok gangguan dasar pada kepribadian, distorsi khas proses pikir, gangguan perasaan, waham yang aneh, gangguan persepsi, halusinasi, dan autisme. Menurut catatan sejarah, ada 4 tokoh yang mengkonsep tentang schizophrenia yaitu Hunglings Jackson (1887), Eugene Bleuler (1908), Emil Kreaepelin (1919), dan Kurt Schneider (1959). Dulunya konsep-konsep mereka dipandang berbeda, namun kini sebenarnya adalah sebuah kesatuan.
Hunglings Jackson => gangguan pada susunan saraf pusat
Eugene Bleuler => fragmented thinking & inability to relate with external word
Emil Kreapelin => deterioration (kemunduran) shg disamakan dementia precox
Kurt Schneider => halusinasi dan delusi
Etiologi
Ada beberapa factor yang dapat menyebakan schizophrenia yaitu dari sudut organobiologik, psikodinamik, psikoreligius, dan psikososial.
a. Organobiologik : Faktor genetic, virus, Auto-antibody, Malnutrisi. Kalo dijelaskan buanyak banget ni.. Karena penelitiannya yg masih terus berkembang. Yang jelas penelitian tersebut berupaya mencari adanya perubahan-perubahan secara specific pada susunan saraf pusat.
b. Psikodinamik : I + S = R [I = Individu (genetic atau kepribadian rentan mjd sakit), S = Situasi (kondisi yg nyebabin tekanan mental), R = Reaksi (hasil dari penyatuan keduanya)]c. Psikoreligius : berkaitan dengan kepercayaan. ex. Seseorang yang menganggap dirinya Tuhan, Dewa, nabi, ataupun utusan-utusan tertentu yang dapat mengganggu kehidupan lingkungan sosialnya. Apa yang dianggap orang tersebut benar, adalah bertentangan dengan kepercayaan yang sudah ada (Al-quran, Injil, dll.)
d. Psikososial : Sama dengan “S” pada psikodinamik. “S” ini merupakan stressor psikososial (Perkawinan,Pekerjaan,Hub. interpersonal,Keuangan, dll)
Teori Freud mengatakan bahwa gangguan jiwa terjadi karena adanya konflik internal (antara Id, Ego, dan Super-Ego) pd diri seseorang shg menyebabkan ketidakmampuan beradaptasi dengan dunia luar.
Karakter
> Gejala Positif :
a. Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional. Meskipun telah dibuktikan secara objektif bahwa keyakinan itu tidak rasional, namun penderita tetap meyakini kebenarannya.
b. Halusinasi, yaitu pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan. Misalnya penderita mendengar suara-suara/bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara/bisikan itu. (hiiiiiii….. nGeri ah!)
c. Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraanya. Misalnya bicaranya kacau sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya. (Disoganized speech)
d. Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat dan gembira berlebihan.
e. Merasa dirinya “Orang Besar”, merasa serba mampu, serba hebat, dan sejenisnya.
f. Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya.
> Gejala Negatif :
a. Alam perasaan(affect) “tumpul” da “mendatar”. Gambaran alam perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.
b. Mengasingkan diri dan suka melamun.
c. Kontak emosional sangat jarang, sukar diajak bicara, dan pendiam (katatonik).
d. Pasif dan apatis.
e. Pola pikir stereotip (pengulangan tindakan atau kata-kata yang menetap dan tidak ada gunannya)
Gejala Positif itu sangat mengganggu lingkungan (biasanya keluarga) sehingga merupakan motivasi keluarga untuk membawa penderita berobat. Sedangkan pada gejala negative dianggap tidak mengganggu lingkungannya sehingga seringkali tidak disadari atau kurang diperhatikan oleh pihak keluargannya. Oleh karena itu, pada penderita denga gejala negative seringkali terlambat membawa penderita untuk berobat.
Terdapat Kriteria utama untuk mendiagnosis schizophrenia, yaitu Delusi, Halusinasi, dan Inkoherensi (pikiran tidak rasional). Hal itu juga ditambah dengan adanya detriorasi (kemunduran) dari taraf fungsi adaptasi dalam lingkungan. Kriteria tersebut terjadi secara terus menerus selama > 6 bulan.
Diantara fase aktif tersebut (kriteria diatas telah tampak) terdapat 2 fase, yaitu fase Prodromal (gejal awal) dan fase Residual(gejala sisa). Pada fase Prodromal telah tampak deteriorasi yang bukan dikarenakan gangguan Afek atau penggunaan Zat adiktif. Sedangkan pada fase Residual terdapat peninggalan gejala yang masih menetap namun penderita mulai bisa beradaptasi dg lingkungan.
Tipe
1. Paranoid Type : seperti dikejar-kejar atau dibuntuti sesuatu
2. Disorganized Type : atau Hebefrenic type (tingkah lakunya kacau)
3. Catatonic Type : super pendiam
4. Undifferentiated type : tdk tergolongkan tp tetap ada delusi, halusinasi, inkoherensi
5. Residual Type : sisa gejala-gejala schizophrenia yg tdk menonjol.
Diagnosis
Multi Axial Diagnosis (bisa dibrowsing via Google)
Treatment
a.Rawat inap di RS bag. Kejiwaan atau RSJ
b.Pengobatan (Antipshycotic : Chlorpromazin, Trifluoperazine, Thioridazine, Haloperidol, Risperidone, Olanzapine, Quetiapine, Aripiprazole, Clozapine)
c.Psikososial Therapies : Suportif, Re-edukatif, Re-konstruktif, Kognitif, Psikodinamik, Perilaku (adaptasi lingkungan), dan keluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar