Minggu, 20 Juni 2010

Politikus di Lapangan Hijau


Mungkin sudah sering jika seorang pemain sepak bola disebut sebagai aktor lapang hijau. Tanpa sadar publik sudah memberi judgement bahwa seorang pemain adalah juga seorang aktor dimana pekerjaan aktor adalah berakting atau bersandiwara. Walaupun aturan sudah ada yang melarangnya sehingga siapa pun pemain yang berakting di lapangan guna mendapatkan keuntungan dari keputusan wasit, hal itu sudah menjadi jurus andalan bagi beberpa tim atau pun pemain tertentu. Namun apabila tindakan akting tersebut berhasil lolos dari pandangan wasit, maka pihak tak berdosa lah yang terkena ganjarannya. Hal ini juga sudah rawan terjadi hampir di setiap pertandingan sepak bola bahkan di turnamen-turnamen tingkat internasional. Maka menurutku mereka bukanlah lagi seorang aktor, melainkan "Politikus".

Sungguh sangat-sangat mengecewakan saat menonton siaran langsung pertandingan tadi malam di salah satu station televisi terkemuka di Indonesia. Yup! Brazil vs Pantai Gading pada hari Senin, 21 Juni 2010 yang dimulai tepat pada pukul 01.30 WIB sungguh sangat membuat diriku naik pitam. Pertandingan saat itu berjalan sangatlah seru dan indah karena permainan Brazil yang sangat atraktif. Namun serunya pertandingan itu spontan berakhir 2 menit sebelum peluit wasit tanda usaix pertandingan ditiup. Berakhirnya keindahan sepak bola itu adalah karena sikap salah satu pemain Pantai Gading (inisial Kader Keita) yang sangat memalukan. Tidak cuma itu, wasit pun dengan cara sepihak membuat keputusan yang sangat kontroversial. Dari kejadian itu, Kaka, bintang sekaligus playmaker andalan tim Brazil menjadi korban yang paling dirugikan.

Saya adalah salah satu pendukung fanatik Tim "Samba" Brazil sejak Final World Cup 2002 dan juga salah seorang yang mengagumi permainan dan kepribadian salah satu sosok pemain bintangnya yaitu Ricardo "Kaka" Izecson dos Santos Leite sejak Final UEFA Champions League 2003. Sebelum 2 moment spesial di atas saya belum terlalu paham dengan dunia sepak bola namun saya sudah memiliki tim negara jagoan dan pemain jagoan saat itu, yaitu Perancis dan Zinedine Yazid Zidane. Hingga kini pun sosok Zidane juga masih menjadi inspirasi bagi saya. Namun tidak untuk negara Perancis yang tampil sangat mengecewakan sejak ditinggal Zidane. Yup! Dari situ saya berani menarik kesimpulan bahwa Tim sepak bola Perancis masih belum bisa bermain cantik dan bermental juara sejak ditinggal pensiun oleh Zidane. Sosok Zidane itupun aku dapat dari pemain yang 14 tahun lebih muda darinya "Kaka". Sejak pertama kali saya melihat permainan Kaka di AC Milan saya yakin suatu saat ia mampu mencapai semua yang pernah didapat oleh Zidane. Hingga akhirnya pada tahun 2007 Kaka mendapatkan penghargaan sebagai Pemain Terbaik se-Eropa dan se-Dunia sekaligus memenangi Trophy Liga Champion Eropa dan mencatatkan namanya sebagi Top Skorer saat itu pada turnamen paling akbar setelah Piala Dunia dan Piala Euro itu. Kesamaan mereka berdua adalah mereka sama-sama pengatur serangan dan menjadi pemain yang sangat berpengaruh di tim mereka.

Mungkin itu tadi sekilas tentang Kaka yang seharusnya menjadi Man of The Match dari pertandingan semalam andai saja ia tidak menerima kartu kuning kedua yang menyebabkan ia keluar lapangan terlebih dahulu sebelum peluit panjang babak kedua dibunyikan. Selama 88 menit sebelum kejadian itu permainan Brazil sangatlah atraktif dan efektif. Walaupun semua pemain Brazil sangat berperan atas kemenangannya 3-1 dari Pantai Gading, namun Kaka adalah seorang pemain yang memegang kunci serangan permainan mereka dengan memberikan 2 assist dari 2 goal yang tercipta yang masing-masing dicetak oleh L.Fabiano dan Elano. Sisa goal Brazil dicetak oleh L.Fabiano juga secara kontroversial pula namun perlu skill yang cukup tinggi untuk melakukan hal yang ia lakukan itu. Satu-satunya gol balasan dari Pantai Gading diciptakan oleh Didier Drogba yang menjadi pemain paling berpengaruh bagi Tim Pantai Gading dan juga striker yang paling berkontribusi atas title juara Premier League bagi Chelsea. Singkat cerita, pada menit ke-88 pemain Pantai Gading "Kader Keita" berlari ke arah Kaka yang sedang berdiri diam sambil memperhatikan dari agak kejauhan kondisi kemelut yang terjadi akibat pelanggaran oleh salah satu bek Pantai Gading terhadap M.Bastos. Anehnya, Keita tidak menghentikan larinya hingga ia menabrak Kaka sehingga Kaka pun spontan merespon dengan sedikit menaikkan sikunya yang diduga merupakan tindakan melindungi diri. Dari kejadian itu, saya pun berkesimpulan bahwa ini adalah tindakan yang disengaja. Alasan pertama yaitu jika dilihat dari ukuran tubuh, Kaka jauh lebih tinggi dibanding Keita sehingga tak mungkin Keita tak melihat Kaka yang hanya diam menghalangi larinya. Seorang tukang pos sepeda pun mampu mengerem mendadak saat ada kucing yang mendadak menyebrang di depanya walaupun ia sedang konsen melihat nomor rumah pelanggan. Kedua, saat kaka merespon dengan sedikit menaikan sikunya tampak sikunya hanya mengenai dadanya. Namun yang terjadi adalah Keita menjatuhkan dirinya dengan wajah meringis sambil memegang mukanya yang bertujuan menunjukan bahwa wajahnya disikut oleh kaka. Hmmm... Benar-benar sebuah rekayasa yang berhasil. Saya berharap FIFA mau mempertimbangkan kartu kuning kedua yang diterima Kaka dengan mengkaji ulang tayangan ulang yang tersedia agar membuat biaya yang dikeluarkan untuk membuat tayangan ulang yang 'sangat jelas' itu lebih bermanfaat.

Dari peristiwa yang terjadi pada pertandingan itu, selain membuat saya geram dan memukul lantai dengan kepalan keras tangan saya, pikiran saya pun langsung tertuju pada kebusukan yang terjadi di dunia politikus dimana banyak kondisi yang hampir selalu merugikan orang-orang baik. Apapun itu jika sudah berbau politik pasti sudah ada permainan kotor di dalamnya. Contoh terkenal adalah Kasus Mafia Hukum dan Kasus Bank Century di Indonesia, Kasus Pengaturan Pertandingan sepak bola di Itali atau yang biasa dikenal dengan Calciopoli dan masih banyak lagi lainnya. Ya itu memang masa lalu yang masih dikhawatirkan bakal terjadi lagi di generasi mendatang jika tidak ada perbaikan generasi yang tersedia. Nah, orang-orang yang mengendalikan semua itu biasa disebut sebagai Politikus atau orang yang bergerak di bidang politik. Menurut saya "Politik tidak bisa berbanding lurus dengan kejujuran atau pun keadilan". Untuk mengkaji hal itu mungkin butuh essay yang sangat panjang lagi sehingga saya hanya membatasi dengan pernyataan itu saja. Namun yang terpenting dari kajian ini adalah saya sangat kecewa jika mental seorang pemain bola sama dengan mental seorang politikus. Dimana mental politikus adalah menghalalkan segala cara demi kemenangan dirinya atau pun pihaknya seperti yang telah dikatakan dalam hadits

"Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai."(HR.Ath-Thabrani)

Bagi saya sungguh sangat keji orang-orang yang punya mental seperti itu.

2 komentar:

  1. Beeeeeeeeeeeeeh..... gejembleng cemeng, akhirnya launching juga, hehehe.... Ayo sebar2kan....

    BalasHapus
  2. hahaha... iyo Le...
    mohon bimbinganx... =)

    BalasHapus